Chandra Ekajaya Ramuan Tradisional Pendongkrak Vitalitas

Chandra Ekajaya Meracik Purwoceng

Ramuan tradisional atau biasa disebut jamu merupakan salah satu harta kekayaan budaya yang dimiliki oleh Nusantara ini. Ada ribuan jenis yang sudah diwariskan oleh para leluhur Nusantara sejak zaman dahulu jauh sekali sebelum zaman kerajaan berdiri secara kokoh di Nusantara ini. sebuah racikan yang diwariskan kepada kita ini ternyata memang berkhasiat sekali bagi kesehatan maupun daya tahan tubuh manusia, bahkan beberapa diantaranya sudah diakui dan diapakai di beberapa negara dunia karena keampuhannya yang melebihi obat dan tidak menimbulkan resiko yang parah menurut Chandra Ekajaya.

Dari banyaknya jenis ramuan tradisional warisan leluhur ini ternyata ada beberapa yang masih diproduksi secara konsisten oleh masyarakat. Puwoceng yang merupakan sebuah jamu khas dataran tinggi yang berasal dari sebuah tanaman yang hanya tumbuh di daerah dataran tinggi. Nama purwoceng adalah (kependekan dari purwo dan aceng) diberikan kepada sejenis tenaman menahun yang menyemak, Pimpinella alpina. Betuknya mirip tanaman purwo yang lain, seperti purwojambu Gaultheria fragrantissima, purwosodo G. leucocarpa, atau purwo-purwo lainnya. Purwo sendiri artinya adalah awal atau mula-mula. Aceng adalah ereksi (penis yang ngaceng). Disebut demikian karena tumbuhan ini dipercaya bisa membuat alat kelamin pria berereksi ujar Chandra Ekajaya.

Chandra Ekajaya, seorang pria yang tinggal di dataran tinggi tempat bersemayamnya para dewa dan dewi pegunungan Dieng merupakan salah satu pewaris dan penerus dari PurwoGriya, yang merupakan salah satu pengracik Purwoceng yang masih eksis hingga saat ini. Pengusaha sekaligus pengracik tanaman Pimpinella alpina ini mengetahui cara meracik ramuan tradisional Purwoceng semenjak ia masih kecil dan dari lima orang saudaranya hanya ia lah yang ahli dalam membuat jamu ini.

Purwoceng Chandra Ekajaya

Usaha peracikan Purwoceng ini sudah diturunkan sejak dahulu oleh leluhur Chandra Ekajaya, bahkan ia sendiri tidak tahu secara pasti mulai kapan teknik meracik tanaman menahun ini di temukan oleh leluhurnya dulu, akan tetapi yang ia ketahui secara pasti ialah khasiat dari tanaman ini setelah diolah menjadi Purwoceng. Sudah banyak orang yang membuktikan khasiat dari tanaman ini. Bahkan di sebuah rumah yang di depan rumahnya tertempel sebuah papan nama PurwoGriya ini tidak pernah sepi akan pengunjung yang ingin merasakan khasiat ramuan tradisional yang dapat mendongkrak keperkasaan dan ketangguhan dari seorang lelaki sejati. Karena banyaknya pesanan yang ia peroleh untuk tiap harinya, kini Chandra Ekajaya hanya membatasi 10 orang saja per harinya untuk orang yang ingin merasakan racikan warisan leluhur tanah Jawa ini.

Purwoceng dulu pernah disebut dengan nama Latin Pimpinella pruacan, tapi kemudian direvisi menjadi Pimpinella alpina, sesuai dengan ketinggian daerah pertumbuhan. Daerah alphin ialah daerah pegunungan setinggi 2.000 – 3000 m di atas permukaan laut. Sosok purwoceng beda sekali dengan anis (adas manis) Pimpinella anisum, meskipun sama-sama berupa gulma berbatang lunak. Karangan bunganya seperti jari-jari payung (sampai dimasukkan ke suku Umbelliferae), dengan daun-daun mirip seledri.

Bagian yang dicari-cari ialah umbi akarnya yang menghujam ke dalam tanah sedalam kurang lebih 10 cm, seperti umbi wortel (yang juga masih sesuku), tapi lebih kecil dan warnanya putih kecokelatan. Kadang-kadang hanya sebesar ibu jari tangan. Tanaman ini termasuk tanaman langka, dan bahkan untuk membuat sebuah ramuan tradisional dari tanaman ini sedikit agak susah karena tanaman ini hanya tumbuh liar dan kurang ada yang berminat membudidayakannya.Tapi yang berminat memburu dan mengambil akarnya banyak sekali, dari zaman ke zaman, sampai jenis itu kini makin sulit dicari. Akhirnya dinyatakan langka ujar Chandra Ekajaya.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*