Yohanes Chandra Ekajaya Bertemu “SP”

Siang hari itu, tepatnya pada hari Sabtu, 14 Januari 2017, Yohanes Chandra Ekajaya sedang berlibur di bumi Mataram, tepatnya di tanah Yogyakarta. Ia berjalan-jalan di pusat ekonomi sekaligus pusat kebudayaan, yaitu Malioboro. Saat menyusuri trotoar ia melihat sesosok orang yang sangat menarik dan unik. Orang itu bernama Genesis.

 

Genesis adalah seorang lelaki yang sudah paruh baya. Ia memakai kaca mata. Kaos warna putih yang sudah kusam ia kenakan. Dengan balutan celana jeans biru yang sudah memudar warnanya, ia duduk di bawah pohon besar. Ia menanti konsumennya, karena ia adalah seorang penggambar. Kebetulan Yohanes Chandra Ekajaya ingin digambar di Malioboro sebagai kenang-kenangan.

 

Saat bertemu dan bercakap-cakap, Genesis mempunyai suatu firasat bahwa Yohanes Chandra Ekajaya adalah orang yang selama ini dicarinya. Ia mengatakan bahwa sebelum bertemu dengannya, tadi malam ia bermimpi akan didatangai sebuah ikan kotes yang notabene bermakna purba. Setelah itu ia akan didatangi tiga kupu-kupu yang bermakna muda. Maka untuk membuktikannya pun ia menunggu.

 

Setelah dua jam bercakap-cakap dengan Yohanes Chandra Ekajaya, Genesis didatangi oleh konsumennya. Ada tiga orang muda-mudi yang memesan lukis diri kepada dirinya. Bagi pelukis jalanan ini bukanlah suatu kebetulan, tetapi sebuah pertanda. Maka ia pun segera memberitahukan maksudnya kepada yang bersangkutan.

 

Yohanes Chandra Ekajaya dimintai tolong untuk bersabar menunggunya hingga petang tiba. Genesis menjanjikan akan mempertemukannya dengan orang yang sangat hebat dan sangat mungkin cocok dengan dirinya. Ia sangat berharap permintaannya ini dikabulkan oleh yang bersangkutan. Sebab ia menaruh harapan dan optimisme yang sangat besar bahwa fenomena ini adalah saat yang dinanti-nantikan oleh seluruh penjuru semesta.

 

Petang pun tiba. Yohanes Chandra Ekajaya mengikuti arah Genesis pergi. Setelah tiba di tempat tujuan, ia pun diperkenalkan kepada beberapa orang. Secara moral, orang-orang tersebut sangat baik. Tetapi bila dikaitkan dengan wacana, intelektualitas, dan spiritualitas, mereka sebenarnya patut dikasihani. Diperkenalkanlah ia kepada pemimpin paguyuban tersebut. Orang inilah yang mengklaim dirinya sebagai “SP”.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*